Pengembangan area komersial di lingkungan fasilitas olahraga telah menjadi tren strategis bagi pengelola untuk meningkatkan pendapatan operasional. Namun, banyak pengelola yang terjebak dalam kesalahan fundamental saat menentukan sistem pengelolaannya. Kesalahan-kesalahan ini sering kali berujung pada penurunan kualitas fasilitas utama dan hilangnya potensi pendapatan jangka panjang.
Kesalahan paling umum adalah memandang area komersial sebagai entitas yang terpisah dari lapangan olahraga itu sendiri. Idealnya, bisnis komersial—seperti toko perlengkapan olahraga, kafe, atau pusat rehabilitasi—harus melengkapi pengalaman pengguna lapangan. Ketika integrasi ini gagal, pengunjung merasa terganggu oleh kebisingan atau ketidaknyamanan operasional, sementara pebisnis di area tersebut kehilangan target audiens yang relevan.
Banyak pengelola terburu-buru mengambil model sewa tetap (fixed rent) demi kepastian arus kas jangka pendek. Padahal, untuk fasilitas yang sangat bergantung pada musim atau event olahraga, model *revenue sharing* (bagi hasil) seringkali jauh lebih menguntungkan dan adil. Kesalahan dalam menentukan model ini membuat pengelola tidak dapat menikmati kenaikan keuntungan saat lapangan sedang ramai, atau justru membebani penyewa saat masa sepi.
Menentukan lokasi kios atau area komersial tanpa memahami alur pergerakan atlet dan penonton adalah kesalahan fatal. Area komersial yang diletakkan di titik "buta" (blind spot) akan kesulitan mendapatkan pelanggan. Pengelola harus memetakan rute akses dari pintu masuk, ruang ganti, hingga ke tribun atau area lapangan agar penempatan unit bisnis berada pada jalur strategis yang memiliki visibilitas tinggi.
Banyak pengelola hanya berfokus pada siapa yang membayar sewa tertinggi tanpa mempertimbangkan kesesuaian brand. Jika area olahraga yang premium diisi oleh pedagang yang tidak menjaga kebersihan atau tidak sejalan dengan nilai kesehatan (misalnya, terlalu banyak gerai makanan tidak sehat), hal ini dapat merusak reputasi fasilitas olahraga tersebut secara keseluruhan. Kurasi tenant yang buruk akan membuat pengguna setia merasa tidak nyaman.
Dalam kontrak pengelolaan, sering kali tanggung jawab mengenai pemeliharaan area komersial menjadi abu-abu. Siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan sampah, pemeliharaan area parkir di depan toko, dan drainase? Kesalahan dalam menetapkan SOP pemeliharaan ini akan menyebabkan area komersial terlihat kotor dan terbengkalai, yang akhirnya akan menurunkan minat masyarakat untuk berolahraga di lokasi tersebut.
Sistem operasional area komersial seringkali berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan jadwal lapangan. Misalnya, jika lapangan aktif pada malam hari, namun area komersial tutup lebih awal, maka potensi keuntungan di jam puncak akan hilang. Sebaliknya, jika area komersial beroperasi saat lapangan tidak digunakan sama sekali, biaya operasional seperti listrik dan keamanan akan membengkak tanpa adanya pemasukan yang sepadan.
Pengelola sering kali menerapkan sistem "lepas tangan" setelah kontrak ditandatangani. Padahal, evaluasi berkala terhadap kinerja tenant sangat penting. Tanpa sistem monitoring yang transparan, pengelola tidak dapat memberikan teguran atau masukan bagi tenant yang kinerjanya buruk, yang pada akhirnya akan merugikan ekosistem komersial di area olahraga tersebut.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, pengelola perlu melakukan perencanaan yang matang, melibatkan kajian pasar yang mendalam, serta menyusun kontrak yang mengedepankan sinergi antara kegiatan olahraga dan aktivitas komersial. Keberhasilan sebuah area komersial di lapangan olahraga tidak hanya diukur dari besarnya biaya sewa, tetapi dari bagaimana area tersebut mampu meningkatkan nilai tambah bagi komunitas olahraga secara berkelanjutan.