Pengelolaan area green atau ruang terbuka hijau pada kawasan lapangan olahraga merupakan aspek krusial yang sering kali terabaikan dalam perencanaan tata kelola fasilitas publik. Seringkali, fokus utama pengelola hanya tertuju pada kualitas permukaan lapangan (seperti rumput stadion atau lintasan atletik) tanpa memberikan perhatian yang sepadan pada ekosistem pendukung di sekitarnya. Kesalahan dalam menentukan sistem pengelolaan area ini tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga pada biaya operasional jangka panjang dan keberlanjutan lingkungan.
Salah satu kesalahan paling mendasar adalah pemilihan jenis tanaman yang tidak sesuai dengan karakteristik iklim setempat. Banyak pengelola memilih vegetasi berdasarkan tren atau tampilan visual semata, tanpa mempertimbangkan tingkat ketahanan terhadap curah hujan tinggi atau musim kemarau yang ekstrem. Tanaman yang tidak adaptif akan memerlukan perawatan intensif, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, dan konsumsi air yang tidak efisien, yang pada akhirnya membengkakkan anggaran pemeliharaan.
Sistem irigasi yang tidak terintegrasi antara area lapangan utama dan area green sering menyebabkan pemborosan sumber daya air. Kesalahan umum lainnya adalah penggunaan sistem penyiraman konvensional yang tidak memiliki sensor kelembapan tanah. Tanpa otomasi yang cerdas, penyiraman sering dilakukan pada jam yang salah, menyebabkan penguapan tinggi dan risiko tumbuhnya jamur atau penyakit tanaman yang dapat menyebar ke area lapangan utama.
Pengelolaan yang efektif membutuhkan zonasi yang jelas antara area aktif (untuk pergerakan manusia) dan area pasif (konservasi). Kesalahan sering terjadi ketika area green difungsikan secara bebas tanpa pembatasan akses. Akibatnya, terjadi pemadatan tanah yang menghambat penyerapan air, matinya rumput atau tanaman penutup tanah, dan kerusakan infrastruktur pendukung karena beban aktivitas yang melampaui kapasitas daya dukung lingkungan.
Area green seharusnya berfungsi sebagai daerah tangkapan air (resapan). Kesalahan fatal dalam perencanaannya adalah ketidakmampuan menghubungkan sistem drainase area hijau dengan drainase lapangan utama. Hal ini sering menyebabkan limpasan air yang berlebihan dari area hijau menuju lapangan utama saat hujan lebat, yang justru merusak struktur lapangan yang seharusnya tetap kering dan stabil.
Sistem pengelolaan sering kali gagal dalam mengintegrasikan manajemen limbah organik, seperti sisa potongan rumput dan dedaunan. Membuang sampah organik keluar kawasan adalah kesalahan operasional yang tidak ekonomis. Idealnya, area green lapangan olahraga memiliki sistem pengomposan mandiri yang dapat digunakan kembali sebagai pupuk organik, sehingga siklus nutrisi di dalam area tersebut dapat terjaga secara alami dan berkelanjutan.
Penentuan sistem pengelolaan area green pada lapangan olahraga harus bersifat komprehensif, melibatkan ahli hortikultura, sistem hidrologi, dan manajemen fasilitas secara terpadu. Kesalahan dalam perencanaan awal sering kali menjadi beban permanen bagi operasional fasilitas. Oleh karena itu, peralihan menuju pengelolaan berbasis data dan pendekatan ekologis sangat diperlukan agar fasilitas olahraga tidak hanya berfungsi sebagai tempat kompetisi, tetapi juga sebagai kawasan ramah lingkungan yang efisien secara biaya dan berkelanjutan secara fungsi.