Lapangan olahraga merupakan aset berharga yang memerlukan pengelolaan intensif. Namun, banyak pengelola fasilitas yang melakukan kesalahan fatal dalam menentukan sistem pemeliharaan (maintenance), yang pada akhirnya berujung pada kerusakan prematur dan pembengkakan biaya operasional. Berikut adalah analisis mengenai kesalahan-kesalahan umum tersebut.
Kesalahan paling mendasar adalah menerapkan metode perawatan yang seragam untuk jenis permukaan yang berbeda. Lapangan rumput sintetis, rumput alami, lapangan beton (hardcourt), dan lapangan berbahan poliuretan memiliki kebutuhan yang sangat spesifik. Misalnya, penggunaan mesin pembersih bertekanan tinggi pada rumput sintetis dapat merusak serat dan lapisan pendukung (backing), sementara pembiaran genangan air pada lapangan hardcourt akan mempercepat degradasi material akrilik. Pengelola sering kali gagal memahami panduan teknis dari produsen material.
Banyak fasilitas olahraga hanya melakukan perbaikan ketika kerusakan sudah terlihat nyata (reaktif). Padahal, maintenance lapangan olahraga seharusnya berbasis preventif atau prediktif. Menunggu lapangan rusak sebelum memperbaikinya akan jauh lebih mahal dibandingkan melakukan pengecekan rutin seperti pembersihan drainase, pengisian pasir kuarsa pada rumput sintetis, atau perbaikan retakan kecil pada lantai. Sistem reaktif menyebabkan waktu operasional lapangan terhenti lebih lama dan mengurangi kenyamanan pengguna.
Sistem maintenance sering kali tidak disesuaikan dengan volume penggunaan lapangan. Lapangan yang digunakan untuk kegiatan komersial (disewakan setiap hari) memerlukan jadwal pemeliharaan yang jauh lebih ketat dibandingkan lapangan yang jarang digunakan. Menggunakan standar perawatan "low-traffic" pada lapangan "high-traffic" adalah resep menuju kerusakan cepat. Pengelola harus mencatat durasi penggunaan (jam pakai) untuk menentukan kapan intervensi pemeliharaan harus dilakukan.
Sering kali fokus maintenance hanya tertuju pada permukaan (visual), sementara sistem drainase di bawah permukaan diabaikan. Padahal, masalah air yang menggenang adalah musuh utama hampir semua jenis lapangan olahraga. Jika sistem drainase tersumbat, air akan terperangkap dan merusak fondasi, memicu pertumbuhan lumut, serta membuat permukaan menjadi licin dan berbahaya. Pembersihan saluran air harus menjadi prioritas utama dalam jadwal maintenance tahunan.
Dalam upaya untuk berhemat atau karena kurangnya literasi, pengelola sering menggunakan bahan kimia pembersih yang bersifat korosif atau tidak ramah terhadap material sintetis. Penggunaan bahan yang mengandung zat pelarut keras dapat melunturkan warna garis lapangan atau merusak ikatan adhesif pada lantai indoor. Selain bahan, penggunaan alat berat yang tidak sesuai standar di atas permukaan lapangan juga sering menjadi penyebab kerusakan struktural yang tidak terdeteksi sejak dini.
Banyak pengelola mencoba melakukan maintenance mandiri tanpa pelatihan yang memadai. Meskipun tampak mudah, perawatan lapangan olahraga melibatkan teknis khusus, mulai dari distribusi bahan pengisi (infill), teknik penyikatan, hingga perbaikan struktur sambungan. Mengandalkan tenaga kerja yang tidak tersertifikasi sering kali justru memperburuk kondisi lapangan daripada memperbaikinya.
Penentuan sistem maintenance yang tepat bukanlah sekadar mengeluarkan anggaran, melainkan investasi dalam keberlangsungan aset. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, pengelola fasilitas olahraga harus beralih ke strategi maintenance preventif yang terdokumentasi, memahami karakteristik material secara mendalam, serta rutin melakukan inspeksi profesional. Dengan sistem yang tepat, umur pakai lapangan olahraga dapat diperpanjang secara signifikan, sekaligus memberikan lingkungan bermain yang aman dan profesional bagi para pengguna.